HeadlineTegal

Jasmerah! Jokowi Wajib Dilawan

Kota Tegal,mitratoday.com – Minggu (28/1/2024), Boro-boro tukang kayu dan ahli furniture, pemilik perusahaan otobus sekalipun tak pernah bermimpi menjadi Walikota Tegal. Sejarah mencatat reformasi telah mengantarkan Jokowi jadi Presiden, Dedy Yon Supriyono dan Ikmal Jaya berhasil menjabat Walikota Tegal.

Mendiang Presiden Soekarno pernah mengingatkan dalam akronim populer: Jasmerah (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah).

Negara ‘tentara’ Orde Baru pimpinan Soeharto meledak sebab rakyat tak kuat lagi menerima gejolak ketidak adilan selama 32 tahun. Soeharto berakhir paksa oleh Gerakan People Power Reformasi 98.

Apakah perjuangan ini semudah membalikkan telapak tangan sehingga Jokowi sedemikian murah mengapresiasi perlawanan rakyat dan mahasiswa dalam merobohkan rezim represif Orba?

Dikabarkan Jokowi pernah kuliah di UGM, maka dipastikan Jokowi pernah mengalami ‘pertarungan’ politik sengit ini. Jika tidak, mungkin Jokowi sedang mengalami amnesia.

Berapa jumlah aktivis termasuk wartawan dan penyair yang hilang di masa Orba? Bukankah semua pengorbanan demi karpet merah Jokowi meraih kursi Presiden?

Presiden lupa soal amanat reformasi tentang KKN — mungkin Jokowi anti korupsi, tapi kolusi dan nepotisme sudah terang benderang dilakukannya.

Dosa sejarah berulang justru ketika pekerjaan rumah reformasi belum usai dikerjakan Jokowi. Tampaknya Presiden fenomenal yang banjir pujian membuatnya limbung dan lupa daratan.

Gibran bukan alasan terbaik untuk menyelamatkan Indonesia, tetapi justru menjerembabkan keluarga besar Presiden Jokowi yang awalnya dikenal santun; njawani, penuh tatakrama dan empan papan karena ambisinya membangun dinasti kini jadi bahan buli seantero.

Sebuah dinasty yang didirikan dengan cara tercela, meminjam istilah majalah Tempo Gibran sebagai “Anak Haram Konstitusi”. Labelitas yang bakal dibawa keluarga besar Jokowi hingga mati.

Dulu saya pernah bangga mengenakan kaos yang saya sablon sendiri bergambar Jokowi dan terlibat kampanye memenangkan Jokowi hingga menjadi Presiden RI.

Kini saya cemas dengan sikap politik Jokowi, bukan karena Capres Prabowo, namun itikad membangun dinasty adalah dosa besar seorang negarawan RI.

Disengaja atau tidak, Jokowi telah menciderai amanat reformasi dengan mengamputasi hak rakyat. Anak bangsa kehilangan impian menjadi orang nomor satu/dua di negeri ini. Menutup tukang kayu lainnya menjadi Presiden.

Menurut saya jika kalian tak melawan kekeliruan di depan matanya sendiri lebih baik mripat kalian buta untuk selamanya. Melalui Pilpres 2024 biarkan saya melawan sendirian dengan cara saya sendiri. Penjaga NKRI lebih mulia mati berbaju hati dari pada mati berbadan busuk. Robohkan dan jegal agenda dinasty.

Penulis Lutfi AN : Pemerhati Kebijakan Publik, Aktivis Seni Budaya dan pernah aktif menjadi jurnalis di sejumlah media massa.

Pewarta : Hartadi

Bagikan

Rekomendasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button