Pemprov Jatim Buka Sosialisasi DBHCHT Kabupaten Malang

Penulis : Sigit

Malang,Mitratoday.com-Pemprov Jatim melalui Biro Perekonomian membuka secara resmi sosialisasi di bidang cukai Kabupaten Malang dihotel Mirabel Kepanjen senin (26/10/2020).

Substansinya adalah edukasi kepada masyarakat tentang rokok ilegal di Kabupaten Malang.

Kepala Sumber Daya Alam Biro Perekonomian Pemprov Jatim Nurhayati.SE.MM mengatakan Jawa Timur menjadi salah satu daerah penyumbang terbesar dibidang cukai.
Ditahun 2019 ,kata Nurhayati pemasukan cukai Jatim mencapa sekitar Rp 99 triliun, atau sekitar 77,6 persen dari pemasukan nasional sebesar Rp 166 triliun.

“Artinya kontribusi Jatim sekitar 50 persen, hal ini menunjukan grafik peningkatan yang cukup signifikan terhadap pemasukan negara dari bidang cukai,”kata Nurhayati.

Kendati diakui Nurhayati, pandemi covid-19 saat ini sangat berdampak terhadap kelangsungan industri rokok di Jatim,terutama industri berskala kecil. Seperti pengangguran dan kesejahteraan petani tembakau.

“Ditahun 2020 ada sekitar 250 industri rokok dan 90 ribu pekerja terdampak atau sekitar 56 persen EHT di Indonesia. Pemicunya adalah dampak regulasi EHT dan peredaran rokok ilegal,”ungkap Nurhayati.

Nurhayati merinci pelanggaran cukai diantaranya pita cukai asli salah peruntukan, pita cukai palsu, dan produk tidak terdaftar di Dirjen Bea Cukai.

“Pencegahannya butuh sinergi Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, Pemerindah Kabupaten /Kota untuk terus bersosialisasi kepada masyarakat terhadap pencegahan peredaran rokok ilegal sesuai Peraturan Menteri Keuangan nomor 7 tahun 2020,”beber Nurhayati.

Nurhayati berharap melalui peran aktif masyarakat mampu mencegah peredaran rokok ilegal.Sehingga dapat meningkatkan perolehan dibidang cukai.

“Karena perolehan dari bidang cukai akan dikembalikan ke daerah untuk mensupport pembangunan di daerah,”pungkas Nurhayati.

Bagikan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close