ArtikelHeadlineNasional

Pentingnya Kata Ajaib ini Pada Anak

Sopan santun merupakan unsur penting dalam kehidupan bersosialisasi sehari – hari, karena dengan menunjukan sikap santunlah, seseorang dapat dihargai dan disenangi dengan keberadaanya sebagai makhluk sosial dimanapun tempat ia berada. Dalam hal ini sopan santun dapat memberikan banyak manfaat atau pengaruh yang baik terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Namun demikian, di era sekarang ini nilai-nilai kesopanan sudah mulai memudar, bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun. Bagi sebagian orang, nilai-nilai kesopanan ibarat aturan kuno yang tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Padahal itu anggapan yang tidak benar, lho. Berikut ini empat kata ajaib yang saat ini mulai ditinggalkan.

  1. Mengucapkan Terima Kasih

Ini bisa dibilang tata karma paling dasar yang harus dipahami oleh setiap anak. Selarik ucapan terima kasih memang terlihat sederhana. Namun pada kenyataanya sekarang ini mulai banyak orang yang berat untuk mengucapkannya, lho. Bahkan ada yang beranggapan mengucapkan terima kasih dianggap kolot sehingga tidak perlu dilakukan lagi.

Kalau kamu termasuk tipe orang yang saat ini mulai termakan oleh anggapan tersebut, segera perbaiki pola pikirmu. Mengucapkan terima kasih itu bukan hal yang memalukan. Justru sebaliknya, ucapan terima kasih menandakan bahwa kamu adalah sosok yang tahu diri dan mampu menghargai satu sama lain.

  1. Mengucapkan kata permisi ketika kita melewati sekumpulan orang

Permisi merupakan kata yang sudah tidak asing lagi di telinga. Namun demikian, di era sekarang ini permisi juga menjadi kata yang sudah mulai langka didengar. Jika mau melirik sekilas ke lingkungan sekitar, jangan kaget jika kamu menemukan sekelompok orang yang sering nyelonong begitu saja tanpa mengucap sepatah kata pun.

Perlu diketahui, meskipun sederhana namun ucapan permisi turut mencerminkan kualitas kepribadianmu, lho. Padahal dengan mengucap permisi tidak akan membuat reputasi dan wibawamu merosot, kok. Kamu justru akan dicap sebagai orang yang paham tata krama serta memiliki budi pekerti yang luhur.

  1. Mengucapkan kata tolong

Ajarkan pada anak-anak atau adik-adik kita untuk selalu mengucapkan kata minta tolong jika sedang memerlukan bantuan. Hal ini sebagai ungkapan yang sopan untuk meminta pada seseorang daripada langsung menyuruh atau mengatakan apa yang mereka inginkan.

Kalimat minta tolong terdengar remeh, tetapi dampaknya akan berkelanjutan dan akan menjadi kebiasaan bagi anak-anak. Mereka tidak akan berlaku seenaknya menyuruh atau meminta bantuan pada orang lain sehingga dianggap sebagai anak yang tidak sopan.

Sebagai makhluk sosial manusia tidak dapat berdiri sendiri, bahkan untuk hal sekecil apapun kamu pasti membutuhkan bantuan orang lain. Namun demikian, dalam meminta bantuan juga tidak bisa asal-asalan, lho. Sekecil apapun itu, tetap ada etika yang harus diperhatikan.

Ucapan tolong menjadi salah satu budaya sopan santun yang mulai dilupakan terutama oleh generasi muda. Tentu kamu pernah beberapa kali menjumpai orang yang meminta bantuan tapi terkesan seperti memberikan perintah. Padahal mengucapkan kata tolong itu bukan sesuatu yang berat.

  1. Mengucapkan kata maaf bila melakukan kesalahan

Kata maaf biasa diucapkan ketika hendak bertanya kepada seseorang maupun sebagai ungkapan ketika kamu baik sengaja maupun tidak sengaja melakukan suatu kesalahan. Namun di era yang sekarang ini, ucapan maaf seolah dipandang sebelah mata terutama oleh para generasi muda.

Padahal dengan mengucapkan maaf itu tidak akan menjatuhkan harga dirimu, lho. Apa yang terjadi justru sebaliknya, mengucapkan kata maaf mencerminkan kamu adalah pribadi berkualitas sehingga orang-orang akan menilaimu sebagai sosok yang memiliki karakter dan perilaku mulia.

Anak-anak terkadang bersikap acuh saat melakukan kesalahan. Bisa juga mereka takut dan berakhir menangis, alih-alih mengakui kesalahannya serta meminta maaf.

Kalimat maaf penting untuk diajarkan pada mereka agar mereka terbiasa mengetahui bahwa apa yang telah mereka lakukan adalah sebuah kesalahan, dan ajak mereka untuk menghindari melakukan kesalahan yang sama.

Penulis : Fini Nola Rachmawati Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta 

Bagikan

Rekomendasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button