PW IPNU Bengkulu Tolak Kenaikan BBM, Berikut Alasannya

Bengkulu,mitratoday.com – Pemerintah telah resmi menaikan harga BBM. Namun, dengan dinaikannya harga BBM tersebut banyak menjadi pro dan contra di tengah masyarakat.

Seperti diketahui, harga BBM jenis Pertalite dari Rp 7.650 menjadi Rp 10.000 per liter, Solar dari Rp 5.150 menjadi Rp 6.800 per liter dan Pertamax dari Rp 12.500 menjadi Rp 14.500 per liter.

Hal itu tentu menuai protes dari berbagai kalangan, tidak hanya masyarakat namun juga organisasi kepemudaan yang ada di Indonesia.

Penolakan kenaikan BBM dianggap wajar oleh berbagai kalangan, disebabkan akan menimbulkan permasalahan baru dimasyarakat, terutama perekonomian disaat Indonesia baru mulai bangkit dari Pandemi covid 19.

Seperti di sampaikan Ketua PW IPNU Provinsi Bengkulu, Nurul Hidayah ia mengecam pemerintah yang telah menaikan harga BBM, karena hal itu menurutnya membawa kesengsaraan baru bagi masyarakat, terlepas apapun alibinya.

”Kita dari PW IPNU Provinsi Bengkulu tentu mengecam serta menolak kenaikan harga BBM yang telah di sampaikan Pemerintah beberapa hari lalu. Karena dengan kenaikan ini sudah pasti akan membawa permasalahan dan kesengsaraan baru bagi masyarakat,” tandas Nurul.

Nurul menjelaskan alasannya menolak rencana kenaikan harga BBM, yakni pertama adanya dampak ekonomi yang saat ini masyarakat baru saja baru bangkit dari Pandemi covid 19. Kemudian, angka putus sekolah juga akan semakin tinggi.

”Dengan terjadinya berbagai dampak itu, tentu saja kita PW IPNU Provinsi sangat miris dan prihatin atas adanya keputusan Pemerintah tersebut. Apa lagi masyarakat baru saja terlepas dan  bangkit dari Pandemi covid 19, sehingga ini akan sangat memberatkan masyarakat,” jelas Nurul.

Kemudian, Nurul juga menyinggung persoalan skema dan solusi jika terjadi kenaikan harga BBM yang hanya selalu menjadikan bantuan langsung sebagai solusi, yang ternyata tidak menjadikan beban masyarakat berkurang, justru munculnya keriuhan baru.

”Dengan terjadinya kenaikan harga BBM, pemerintah hanya menjadikan bantuan langsung tunai sebagai jalan keluar masyarakat, yang pada kenyataanya hal tersebut tidak dapat meringankan beban masyarakat,” pungkasnya.

Selain itu, Nurul menyampaikan persoalan yang terjadi di dunia pendidikan atas dampak dari naiknya Harga BBM.

“Dengan kenaikan harga BBM ini, ongkos pulang dan pergi pelajar juga akan naik, karena biaya transportasi umum tarifnya juga naik. Mengingat sarana transportasi ramah pelajar masih belum merata ditengah-tengah masyarakat.” Jelasnya.

Maka, ujar Nurul persoalan ini juga harus berimbang dengan situasi yang ada di kalangan bawah.

“Sehingga nanti jika ada solusi terbaik dari pemerintah, tidak menimbulkan keriuhan baru. Karena kalau sekedar mengandalkan bantuan langsung tunai yang di berikan pemerintah, itu tidak memberi solusi terbaik. Apa lagi di era sekarang semua kebutuhan, harganya serba tinggi.” Tutup Nurul.(Arr)

Bagikan
Exit mobile version