DaerahHeadlineKesehatanMalang

Krisdayanti Bersama Kemenkes RI Sosialisasikan Gernas Bude Jamu Kepada Warga Gedangan

Malang,mitratoday.com – Dalam rangka meningkatkan kemampuan pelaku usaha di bidang obat tradisional agar menghasilkan produk aman, bermutu, dan bermanfaat. Direktorat Produksi dan Kefarmasian Kementerian Kesehatan RI bersama Anggota Komisi IX DPR RI mengadakan edukasi pembuatan dan penggunaan jamu yang aman, bermutu dan bermanfaat, serta sosialisasikan Gerakan Nasional Bugar Dengan Jamu (Gernas Bude Jamu) yang diselenggarakan di Kantor Balai Desa Gedangan, Kecamatan Gedangan Kabupaten Malang, Minggu (13/08/2023).

Hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Anggota komisi IX DPR RI Krisdayanti, PLT Direktur Produksi dan Distribusi Kefarmasian Kemenkes RI Elsa Gustanti S.si, apt, M.H, Kepala Seksi Kefarmasian Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur Susilo Ari Wardani, Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Malang Drg. Izzah El Mailah, M.kes, dan beserta Forkopimcam Kecamatan Gedangan.

Dalam sambutannya, PLT Direktur Produksi dan Distribusi Kefarmasian Kemenkes RI Elsa Gustanti, menjelaskan bahwa kegiatan ini penting dilakukan ditengah upaya untuk mengedukasi dan meningkatkan penggunaan jamu yang aman, bermutu dan bermanfaat.

“Kegiatan ini bertujuan untuk mengedukasi dan meningkatkan penggunaan jamu, dan bermanfaat agar dapat lebih berperan dalam kesehatan dan kebugaran masyarakat serta meningkatkan ekonomi rakyat.” ucap Elsa Gustanti.

Elsa Gustanti menambahkan, bahwa arah kebijakan pemerintah di bidang kesehatan, adalah meningkatkan pelayanan kesehatan menuju cakupan kesehatan semesta dengan penekanan kepada penguatan pelayanan kesehatan dasar dan inovatif.

“Salah satu strategi yang dilakukan melalui pembudayaan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) yang merupakan adalah gerakan yang bertujuan untuk memasyarakatkan budaya hidup sehat.” tambahnya.

Gernas Bude Jamu diluncurkan oleh pemerintah pada tahun 2015 untuk mendukung gerakan masyarakat hidup sehat serta mendukung komitmen pemerintah dalam mengangkat jamu menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

“Jamu merupakan warisan budaya bangsa Indonesia yang telah digunakan turun temurun menjadi produk yang bernilai ekonomi tinggi, yang memberikan manfaat dan menjadi kebanggaan sebagai bagian dari identitas bangsa. Jamu memiliki tiga dimensi manfaat dan yakni, kesehatan, ekonomi dan sosial budaya.” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Elsa juga menjelaskan bahwa jamu dapat mendukung upaya promotif reprentif, dengan minum jamu secara rutin dapat meningkatkan kebugaran dan kesehatan keluarga dan menekan biaya kesehatan.

“Yang perlu diperhatikan oleh para pelaku UJG dan UJR maupun masyarakat adalah bagaimana penggunaan jamu yang memenuhi persyaratan kesehatan, terutama dalam aspek kebersihan dalam pembuatan jamu.” pungkasnya.

Sementara itu, anggota komisi IX DPR RI Krisdayanti menyebutkan bahwa sosialisasi ini bertujuan untuk memberikan edukasi manfaat jamu kepada masyarakat Desa Gedangan.

“Masyarakat Gedangan khususnya diberikan self awarnes sebagai konsumen pengguna jamu yang cerdas. Artinya masyarakat memiliki kepercayaan yang penuh terhadap jamu untuk mendapatkan vitalitas, dan kesehatan lebih cepat.” jelas Krisdayanti.

Menurutnya, masyarakat menilai efek samping penggunaan jamu lebih rendah. Sehingga banyak masyarakat memilih jamu. Akan tetapi, kesalahannya adalah menyandingkan jamu dengan obat-obatan.

“Kesalahannya adalah mencampurkan jamu dengan obat-obatan yang mengakibatkan kondisi ginjal yang tidak baik. Sehingga, menyebabkan mereka mengeluarkan uang lebih banyak untuk cuci darah. Dengan program sosialisasi yang dilakukan oleh kementerian kesehatan, Krisdayanti berharap masyarakat yang diwakili nya bisa merasakan program-program yang diberikan oleh Kementerian Kesehatan.” pungkasnya.

Pewarta : Aril

Bagikan

Rekomendasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button